Alas Roban dan Pohon Jati

Alas Mantingan adalah salah satu hutan di Indonesia yang dikenal dengan medan yang curam. Tidak hanya itu saja, tempat ini juga dikenal sebagai jalur yang cukup mengerikan.

Sejarah Alas Mantingan

Kawasan hutan
Mantingan memiliki sejarah dan cerita masa lalu yang cukup panjang. Pada zaman sebelum
kemerdekaan, kawasan hutan jati Mantingan ini dikelola oleh pihak pemerintah
Belanda. Saat itu, masyarakat yang tinggal di Desa Mantingan memiliki mata
pencaharian bercocok tanam. Masyarakat umumnya bekerja sebagai buruh tanaman
dan memelihara tebangan kayu kehutanan. Beberapa masyarakat yang memiliki lahan
sendiri juga bertani di kawasan hutan sebagai pesanggem.

Hal ini menunjukkan
bahwa di zaman penjajahan, kawasan mantingan menjadi pusat bagi pemerintah
Hindia Belanda. Bukti-bukti tersebut antara lain berupa adanya kolam renang dan
lapangan tenis, serta adanya jaringan jalan angkutan produksi kayu jati yang
dapat dilihat sampai sekarang.

Tidak hanya itu, di
kawasan mantingan banyak ditemukan beberapa loji bekas rumah Belanda atau
pesanggrahan. Ada loji besar kantor orang Belanda dan ada pula loji-loji
lainnya yang berada di area Asrama Polisi Kehutanan.

Akan tetapi sangat
disayangkan, loji-loji ini telah dibongkar oleh Perum Perhutani. Sehingga yang
tertinggal saat ini hanyalah pondasinya saja. Ada pula loji yang dibongkar dan
sekarang ini merupakan bangunan asrama serta berfungsi sebagai kantor Polsek
Bulu. Adapun hanya bangunan ini saja yang tersisa dengan kondisi bangunan yang
juga hampir roboh.

Jika menilik pada
zaman penjajahan, sarana transportasi di daerah Mantingan sudah sangat ramai.
Kondisi transportasi ini semakin ramai sejak dibangunnya stasiun kereta api
tepatnya pada tahun 1898. Kemudian pada tahun 1918 mulai dipilih seorang lurah.

Kemudian sekitar tahun
1945 hingga 1949 tentara “Jati Kusuma” dari Tuban pernah singgah di
pesanggrahan yang saat ini lebih dikenal dengan Wana Wisata Mantingan untuk
bergerilya melawan penjajah Belanda dan juga Jepang. Di tempat ini pula Divisi
V Ronggolawe yang dibentuk oleh Djatikoesoemo pernah bersiap untuk menghadapi
Agresi Militer Belanda II serta pemberontakan PKI di Madiun pada tahun 1948.

Alas Mantingan dan Pohon Jati

Sekalipun Alas Mantingan dianggap seram seperti Alas Roban, namun hutan ini memiliki manfaat tersendiri. Alas mantingan yang merupakan hutan jati yang sangat dibutuhkan keberadaannya. Di kawasan inilah banyak terdapat pohon jati yang terkenal dengan nilai komersilnya yang sangat tinggi.

Kayu jati banyak
digunakan untuk membangun rumah dan juga membuat beberapa macam alat pertanian.
Kayu jati yang dikenal dan kuat tentu menjadi kayu idaman bagi setiap orang
untuk dijadikan sebagai bahan pembuat mebel dan peralatan lain dan sebagainya.

Banyak manfaat dari
pohon jati yang tentunya sangat berguna bagi manusia. Misalnya dari bagian
cabang dan ranting jati. Cabang dan ranting dari pohon jati bisa digunakan
untuk menjadi bahan bakar bagi banyak rumah tangga yang berada di kawasan desa.

Selain itu, pohon jati
juga mengalami masa penyerbukan. Penyerbukan bunga dilakukan oleh banyak
serangga termasuk lebah. Tentu saja kehadiran lebah ini menguntungkan
masyarakat karena menghasilkan madu yang bermanfaat penting bagi manusia.

Keberadaan pohon jati tidak hanya memberikan keuntungan komersil saja. Pohon jati juga memberikan peranan penting bagi ekosistem hutan. Tajuk berbagai pohon jati yang ada di dalam hutan akan melakukan proses fotosintesis yang berfungsi untuk menyerap karbondioksida dari udara dan melepaskan kembali oksigen serta uap air ke udara.

Alas Mantingan sebagai
kawasan hutan jati sebaiknya tetap dijaga kelestariannya. Sebab banyak manfaat
yang diperoleh dari keberadaan hutan jati tersebut. Sebagai salah satu kekayaan
negara Indonesia, tentunya hutan yang satu ini memberikan beragam manfaat bagi
sekitarnya.

Comments are closed.

css.php
Skip to toolbar